Malam Nisfu Sya’ban di Masjid Al-Adalah: Lantunan Yasin dan Munajat Cinta untuk Negeri serta Palestina

JAKARTA, KOREK.ID Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al-Adalah, markas dakwah DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), saat ratusan jemaah berkumpul untuk menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban 1447 Hijriah. Senin (2/2/2026) Malam.

Di bawah pendar cahaya lampu masjid yang tenang, lantunan zikir dan selawat mengalun syahdu, menandai titik tengah bulan Sya’ban sekaligus pengingat bahwa bulan suci Ramadan kini tinggal menghitung hari. Agenda ini menjadi ruang spiritual bagi para kader dan masyarakat untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, bersimpuh memohon ampunan dan keberkahan kepada Sang Khalik.

Bacaan Lainnya

Dewan Penasihat DKM Al-Adalah, Ustaz Igo Ilham, dalam sambutannya membuka malam tersebut dengan untaian rasa syukur atas nikmat usia. Beliau mengingatkan bahwa kesempatan bertemu dengan malam mulia ini adalah hadiah besar dari Allah SWT.

“Kita berdoa agar keberkahan yang kita pinta sejak bulan Rajab terus mengalir hingga kaki kita melangkah masuk ke gerbang Ramadan 1447 Hijriah,” ujarnya dengan nada lembut namun penuh penekanan.

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh hadirin untuk mempersiapkan bekal terbaik menjelang bulan seribu bulan yang akan tiba sekitar dua pekan lagi.

Tidak hanya fokus pada dimensi personal, Malam Nisfu Sya’ban di PKS kali ini juga membawa pesan kemanusiaan yang mendalam. Di tengah munajatnya, Ustaz Igo Ilham menitipkan doa khusus untuk kemerdekaan bangsa Palestina yang hingga kini masih berjuang di bawah belenggu penjajahan.

Beliau menegaskan bahwa doa di malam mustajab ini adalah senjata bagi umat Islam untuk mengetuk pintu langit, memohon agar saudara-saudara di Palestina segera merasakan fajar kemerdekaan, sebagaimana bangsa-bangsa Islam lainnya yang telah lebih dulu merdeka.

Dalam bingkai persatuan, pesan tentang kerukunan antar umat juga ditekankan. Beliau menjelaskan bahwa perbedaan dalam amaliah agama adalah hal yang lumrah dan telah dijelaskan oleh para ulama terdahulu.

Yang terpenting bukanlah mencari titik beda, melainkan bagaimana saling menghormati agar perbedaan tersebut justru mendatangkan rahmat dan memperkokoh persatuan bangsa. Sikap saling menghargai ini dipandang sebagai kunci utama untuk menjaga kerukunan umat Islam di Indonesia yang sangat majemuk.

Memasuki inti acara, Ustaz Muhammad Suwanto, Lc., M.Pd., memimpin pembacaan Surah Yasin sebanyak tiga kali dengan penuh kekhusyukan. Beliau merujuk pada pesan Imam Syafi’i dalam kitab “Al-Um” bahwa Malam Nisfu Sya’ban adalah salah satu malam di mana doa-doa tidak akan ditolak. Jemaah yang hadir secara fisik maupun yang mengikuti melalui PKS TV tampak larut dalam bacaan ayat-ayat suci, menciptakan getaran spiritual yang menyejukkan hati bagi siapa saja yang menyimak.

Setiap putaran pembacaan Surah Yasin diikuti dengan niat yang tulus dan mendalam. Niat pertama dipanjatkan untuk memohon umur panjang dalam ketaatan dan ketakwaan. Niat kedua diarahkan untuk memohon rezeki yang lapang, halal, dan berkah dari pintu-pintu yang tak terduga. Sementara pada putaran terakhir, jemaah bersatu dalam doa agar iman mereka dikokohkan hingga akhir hayat, serta diwafatkan dalam keadaan “husnul khatimah”. Ketiga niat ini merangkum kebutuhan mendasar setiap hamba dalam menapaki perjalanan hidup menuju keabadian.

Puncak kekhusyukan terjadi saat doa Nisfu Sya’ban dipanjatkan. Di bawah pimpinan Ustaz Suwanto, jemaah serempak mengamini permohonan agar Allah menghapus segala kesulitan dan menjauhkan marabahaya dari diri, keluarga, hingga bangsa dan negara.

Suara “Aamiin” yang menggema di dalam masjid menciptakan suasana emosional yang kuat, menggambarkan betapa besarnya harapan hamba kepada Tuhannya. Doa tersebut menjadi penutup rangkaian ibadah yang diharapkan mampu membersihkan hati sebelum memasuki madrasah Ramadan.

Acara ditutup dengan penuh kehangatan melalui sebuah pantun yang mengingatkan bahwa “harum Ramadan sudah tercium” dan ajakan untuk saling memaafkan.

Presiden PKS dan seluruh jajaran pimpinan berharap melalui peringatan ini, seluruh kader dan umat Islam dapat memasuki bulan Ramadan dengan jiwa yang suci dan semangat pelayanan yang lebih kuat.

Pekikan takbir “Allahu Akbar” yang menutup majelis menjadi simbol energi baru bagi para jemaah untuk menyongsong hari-hari penuh kemuliaan yang segera tiba.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *